Empat Nelayan Asal Tanjung Pandan Masih Hilang, Ketua HNSI Babel Koordinasi dengan HNSI Kepri

http://BuwanaEksclusifNews.com (BATAM) – Musibah kecelakaan laut yang menimpa KM Putra Buluh, kapal nelayan asal Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, di perairan sekitar Pulau Pengikik, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, mendapat perhatian serius dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI).

Dalam kecelakaan tersebut, KM Putra Buluh diduga ditabrak kapal kargo yang sedang berlayar menuju Kalimantan. Lima orang anak buah kapal (ABK) menjadi korban. Satu orang, yakni Khoirul (31), berhasil ditemukan dalam kondisi selamat, sementara empat nelayan lainnya hingga Senin (10/8/2026) masih dalam pencarian.

Keempat nelayan yang belum ditemukan masing-masing Samsir (25), Samsu (50), Tono (40), dan Irfan (29). Seluruh korban diketahui merupakan nelayan asal Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung.

Ketua DPD HNSI Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Distrawandi, meminta proses pencarian terhadap empat nelayan tersebut terus dimaksimalkan dengan melibatkan seluruh unsur terkait.
Ia menjelaskan, KM Putra Buluh selama ini beroperasi menangkap ikan di wilayah perairan Selat Karimata yang lokasinya tidak jauh dari Pulau Pengikik, Kecamatan Tambelan.
β€œKapal KM Putra Buluh ini berasal dari Pulau Belitung, Tanjung Pandan. Mereka nelayan Tanjung Pandan dan memang beroperasi di perairan Selat Karimata, yang lokasinya tidak jauh dari Pulau Pengikik, Kecamatan Tambelan, Bintan,” ujar Distrawandi.

Menurut keterangan sementara dari Khoirul, kecelakaan terjadi pada Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu para ABK sedang beristirahat ketika tiba-tiba terjadi benturan keras. Kapal nelayan tersebut diduga ditabrak kapal kargo yang sedang menuju Kalimantan.
Akibat benturan tersebut, KM Putra Buluh mengalami kerusakan parah hingga terbelah menjadi dua bagian.
Khoirul berusaha menyelamatkan diri dengan bertahan pada bagian kapal yang masih terapung. Ia juga sempat mencari rekan-rekannya menggunakan senter, namun tidak menemukan keberadaan mereka.
Korban kemudian bertahan di laut menggunakan tutup fiber hingga akhirnya ditemukan oleh kapal nelayan KM Lima Saudara Kandung yang dinakhodai Hendri bersama empat ABK.
Khoirul ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB, Senin (10/8/2026), di wilayah perairan timur tenggara Pulau Tambelan, sekitar 12 mil dari Pulau Tambelan. Dalam kondisi lemas, korban kemudian dibawa ke Posal sekitar pukul 12.12 WIB untuk mendapatkan penanganan serta dimintai keterangan awal.

HNSI Babel Koordinasi dengan HNSI Kepri
Sementara itu, Ketua DPD HNSI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Ridwan, S.PKP, menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa para nelayan asal Tanjung Pandan tersebut.
Ridwan mengatakan, pihaknya telah melakukan komunikasi dan berkoordinasi dengan Ketua DPD HNSI Provinsi Kepulauan Riau, Distrawandi, guna memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangan pencarian empat nelayan yang masih hilang.

β€œKami dari DPD HNSI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah berkoordinasi dengan Ketua DPD HNSI Kepri. Karena para korban merupakan nelayan asal Tanjung Pandan, Belitung, tentunya musibah ini menjadi perhatian kita bersama,” ujar Ridwan.
Menurut Ridwan, prioritas utama saat ini adalah memastikan proses pencarian terhadap empat nelayan dapat dilakukan secara maksimal dan terkoordinasi.
β€œKita berharap Basarnas, TNI AL, DKP, Polair dan seluruh unsur terkait dapat terus memperluas serta memaksimalkan pencarian. Keselamatan dan keberadaan empat nelayan yang masih hilang harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Ridwan juga meminta agar informasi mengenai kecelakaan tersebut disampaikan secara jelas dan berdasarkan hasil pemeriksaan pihak berwenang, khususnya terkait kapal kargo yang diduga menabrak KM Putra Buluh.
β€œKami berharap identitas kapal kargo yang diduga terlibat dalam kecelakaan ini segera dapat diketahui dan ditelusuri oleh pihak berwenang. Kita tidak ingin muncul informasi yang simpang siur. Yang paling penting sekarang adalah pencarian korban dan memastikan kronologi kejadian dapat terungkap secara terang,” katanya.
Ia menambahkan,

HNSI Babel siap membantu komunikasi dan koordinasi dengan jaringan nelayan, khususnya di wilayah Belitung dan perairan sekitar Selat Karimata, apabila dibutuhkan dalam proses pencarian.
β€œJaringan nelayan kita cukup luas. Jika ada informasi dari nelayan yang berada di sekitar wilayah kejadian, tentunya akan segera kita teruskan kepada pihak yang melakukan pencarian. Kita berharap seluruh potensi yang ada dapat dikerahkan,” ujar Ridwan.

HNSI Minta Keselamatan Nelayan Menjadi Perhatian
Ridwan juga mengingatkan bahwa kejadian tersebut menjadi perhatian serius bagi keselamatan nelayan yang melakukan aktivitas penangkapan ikan di wilayah perairan yang juga menjadi jalur pelayaran kapal-kapal besar.
β€œKejadian seperti ini menjadi pengingat bahwa keselamatan nelayan di laut harus menjadi perhatian bersama. Nelayan bekerja mencari nafkah dan juga memiliki hak untuk mendapatkan rasa aman ketika berada di laut,” katanya.
Menurutnya, koordinasi antara nelayan, otoritas pelabuhan, kapal-kapal niaga, TNI AL, Basarnas, DKP dan instansi terkait perlu terus diperkuat, terutama di wilayah yang menjadi jalur pelayaran dan lokasi aktivitas penangkapan ikan.
β€œKoordinasi dan komunikasi di laut harus terus diperkuat. Kita berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” tambahnya.

Ketua HNSI Kepri Distrawandi sebelumnya juga menegaskan bahwa pihaknya masih menunggu informasi resmi dan hasil pendalaman dari pihak berwenang mengenai kronologi lengkap kecelakaan, termasuk identitas kapal kargo yang diduga menabrak KM Putra Buluh.
β€œKami juga berharap identitas kapal kargo yang diduga menabrak KM Putra Buluh dapat segera diketahui. Ini penting agar kejadian tersebut bisa ditelusuri secara jelas dan tidak menimbulkan informasi yang simpang siur,” tegas Distrawandi.
HNSI meminta seluruh unsur terkait terus melakukan pencarian dengan mengerahkan kemampuan dan sumber daya yang tersedia.
β€œPrioritas saat ini adalah keselamatan dan pencarian empat nelayan yang masih hilang. Kami dari HNSI siap membantu koordinasi dengan nelayan di lapangan dan memberikan informasi yang kami terima kepada pihak terkait,” ujarnya.

Ridwan berharap keempat nelayan yang masih dalam pencarian segera ditemukan dalam keadaan selamat dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga di Tanjung Pandan.
β€œKita semua berdoa dan berharap Samsir, Samsu, Tono dan Irfan segera ditemukan dalam kondisi selamat. HNSI Babel bersama HNSI Kepri akan terus berkoordinasi dan memantau perkembangan pencarian ini,” tutup Ridwan.

Β 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *